Stop Autoimun Sejak Sekarang !
Stop Autoimun Sejak Sekarang !
http://kursusinggrispare.com/ //Para dokter dan masyarakat diminta mewaspadai
autoimun, yakni penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistim imun yang
semakin banyak terjadi di Indonesia. Selain faktor genetik, salah satu penyebab
autoimun adalah kekurangan Vitamin D.
"Sehingga, biasanya atau dulunya menyerang
warga di negara non-tropis. Namun sejalan dengan perkembangan waktu dan pola
hidup, penderita autoimun sudah banyak di negara tropis termasuk
Indonesia," ujar dokter ahli autoimun, Dr. dr Iris Rengganis,Sp.PD, KAI
FINASIM di Medan, Ahad (26/8).
Baca juga info : info kursus bahasa inggris
Dia mengatakan itu usai seminar mengangkat
penyakit autoimun dengan tema 'Good Doctor for Better Autoimmune Treatments' di
Grha Prodia Medan. Seminar yang diikuti 12O dokter dari berbagai daerah
diharapkan bisa semakin memperluas pengetahuan dokter tentang autoimun sehingga
bisa menekan angka penderita autoimun di Indonesia. Seminar di Medan merupakan
kota ke-13 dari rencana 18 kota.
Menurut Iris, autoimun belum menjadi penyakit
yang disadari masyarakat karena selain gejalanya tidak khusus, juga karena
penyakit itu banyak jenisnya atau sekitar 80 ragam. Dengan seminar, diharapkan
para dokter khususnya di daerah bisa mengetahui lebih banyak tentang autoimun
sehingga bisa menekan angka kematian dampak penyakit ini. Masyarakat juga
diharapkan bisa menjaga diri dan mengetahui penyakit autoimun,
Baca juga info : info biaya kursus bahasa inggris
Dia menyebutkan, karena autoimun salah satunya
disebabkan kekurangan Vitamin D, maka harusnya masyarakat bisa melakukan dengan
rajin berjemur di pagi hari atau lebih baiknya sebelum pukul 11.00 WIB.
Dokter spesialis autoimun lainnya Dr.dr.
Blondina Marpaung, Sp.PD., KR mengatakan, penyakit autoimun lebih banyak
menyerang wanita. "Penyakit autoimun biasanya terjadi di usia produktif
sehingga harus diwaspadai,"katanya. Di Indonesia, prevalensi defisiensi
Vitamin D pada wanita berusia 45 hingga 55 tahun mencapai 50 persen.
Baca juga info : kursus bahasa inggris di al azhar pare
Penelitian di Indonesia dan Malaysia,
defisiensi Vitamin D sebesar 63 persen terjadi pada wanita usia 18-40 tahun. Dengan
semakin banyaknya penderita autoimun, maka para dokter dan masyarakat harus
lebih mengetahui banyak dan peka dengan penyakit itu. Product Specialist
Prodia, Gianni Yosephine menyebutkan Prodia menyediakan pemeriksaan
laboratorium yang dapat menunjang diagnosis para dokter tentang penyakit
autoimun itu.
Gejala penyakit autoimun
Gejala
awal banyak penyakit autoimun sangat mirip, seperti:
1.
Kelelahan
2.
Otot
yang sakit
3.
Bengkak
dan kemerahan
4.
Demam
derajat rendah
5.
Kesulitan
berkonsentrasi
6.
Mati
rasa dan kesemutan di tangan dan kaki
7.
Rambut
rontok
8.
Ruam
kulit
Penyakit
individu juga dapat memiliki gejala unik mereka sendiri. Sebagai contoh,
diabetes tipe 1 menyebabkan rasa haus yang ekstrim, penurunan berat badan, dan
kelelahan. IBD menyebabkan nyeri perut, kembung, dan diare.
Dengan
penyakit autoimun seperti psoriasis atau RA, gejala datang dan pergi. Periode
gejala disebut flare-up. Periode ketika gejala pergi disebut remisi. Tes yang
mendiagnosis penyakit autoimun. Tidak ada tes tunggal yang dapat mendiagnosis
sebagian besar penyakit autoimun. Dokter Anda akan menggunakan kombinasi tes
dan penilaian gejala Anda untuk mendiagnosis Anda.
Baca juga info : daftar kursus kampung inggris pare
Tes
antibodi antinuklear (ANA) sering tes pertama yang dokter gunakan ketika gejala
menunjukkan penyakit autoimun. Tes positif berarti Anda mungkin memiliki salah
satu penyakit ini, tetapi tidak akan memastikan secara pasti mana yang Anda
miliki.
Tes
lainnya mencari autoantibodi spesifik yang diproduksi pada penyakit autoimun
tertentu. Dokter Anda mungkin juga melakukan tes untuk memeriksa peradangan
yang dihasilkan penyakit ini di dalam tubuh.

Comments
Post a Comment