Dakwah dan Ukhuwah
Dakwah dan Ukhuwah
http://kursusinggrispare.com/ // Dikisahkan dalam sebuah sirah bahwa sang Nabi hari itu terlihat semringah.
Meluncur dari lisan fasihnya, untaian cinta yang menghangatkan telinga si
pendengarnya, “Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh
Rabbku!”
Baca Juga : Kursus
Bahasa Inggris
Sang Nabi sendiri selalu tersenyum ketika melafalkan kalimat ini. Dan, orang
yang dimaksud pun juga tersipu. Padahal, ia berpenghalang dengan penglihatanya
alias buta. Ke arah Majelis Nabawi itu Abdullah ibnu Ummi Maktum, pemilik nama
ini, tertatih mendekat. Lalu, Rasulullah bersegera mengulurkan tangan,
menggandengnya, menggenggam jemari lelaki ini erat-erat, dan mendudukkannya di
sebelah Beliau.
Teguran Allah pada Beliau itu sudah lama sekali. Tetapi, sang Nabi takkan
pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan, dan
mengalihkan wajah dari Abdullah ibnu Ummi Maktum. Tak sepenuhnya abai
sebenarnya.
Hanya saja, saat itu Rasulullah SAW sedang berada di hadapan para pembesar
Quraisy dan sedang membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. Saat itu, teramat
tinggi hasrat sang Nabi agar para pemuka itu mau menerima dakwah. Karena,
mereka adalah pemimpin kaumnya, pikir Beliau, insya Allah akan banyak manusia
yang mengikuti langkah mereka.
Baca Juga : Info
Kursus Bahasa Inggris
Maka, kedatangan Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta, yang lemah, yang
pinggiran, dan tanpa kuasa itu terasa seperti sebuah usikan kecil bagi asa
dakwah Beliau. Kehadirannya seolah menjadi citra bahwa yang mengikuti Muhammad
adalah orang-orang dhuafa dan fakir, orang-orang belakang dan pandir.
Itu pasti akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan.
Jadi, Beliau bermuka masam dan berpaling. Lalu, Allah menegurnya. “Dia bermasam
muka dan berpaling karena datang seorang buta kepadanya.” (QS Abasa [80]: 1-2).
Tak ada yang salah dengan hasrat kuat sang Nabi agar pembesar Quraisy itu
segera beriman. Allah memang telah mengamanahi Beliau untuk menyeru mereka
kepada hidayah. Dan, secara pribadi sang Nabi pun sama sekali tak punya benci,
jijik, atau risih kepada Ibnu Ummi Maktum ini. Beliau hanya merasa
kemunculannya terjadi pada saat yang tak tepat.
Antara dakwah dan ukhuwah. Ya, kedua materi ini seperti dua mata perkuliahan
yang hendak Allah sampaikan kepada Nabi-Nya supaya lebih bijak mendudukkannya.
Hari itu, Nabi seperti merasakan gelombang hikmah dari teguran Allah. Gelombang
keinsyafan dari untaian salam Nabi kepada Ibnu Ummi Maktum di atas begitu
terasa.
Beliau kini lebih memahami bahwa dakwah ini milik Allah. Bahwa, hidayah juga
adalah milik-Nya. Tugasnya hanya ikhtiar semata. Beliau tidak akan
dipersalahkan atau menanggung dosa jika para pemuka Quraisy tak juga beriman.
Beliau seperti sedang dididik untuk lebih adil dan tak membeda-bedakan sikap.
Baik kepada pemuka kaya atau kepada yang buta papa. Sikap cinta dan mesra
Beliau harus serupa. Begitulah seharusnya kita, para juru dakwah. Ikhtiar dalam
dakwah dan tetap berupaya melebarkan ukhuwah. Wallahu a’lam.
Baca Juga : Daftar Kursus Inggris

Comments
Post a Comment